Begitulah, konsepsi orang kecil dan orang besar terus saja berhadap-hadapan dengan orang kita dan orang sana. Semua bermula dari kepemilikan sumberdaya. Kata Marx dalam Das Kapital [1867], sumber utama pertentangan kelas adalah penguasaan faktor produksi. Penguasaan ini melahirkan kelas borjuis [pemilik modal dan tuan tanah], serta kelas proletariat [buruh].

Dua kelas ini secara berkesinambungan melahirkan konflik dari tesa berhadapan dengan antitesa sehingga melahirkan sintesa. Sintesa ini menjadi tesa baru yang akan berhadapan dengan antitesa yang juga baru sehingga melahirkan sintesa yang lebih baru. Begitu seterusnya, sehingga kemudian kata Marx pada saatnya nanti akan lahir masyarakat tanpa kelas.

Masyarakat tanpa kelas inilah yang oleh ilmuan sekarang dianggap sebagai utopia, mimpi dan omong kosong. Bahkan semakin tua dunia semakin serakah manusia untuk menguasai faktor produksi agar dikenal sebagai kaum the have yang disegani oleh kaum the haven’t. Penguasaan itu pada akhirnya juga turut mengendalikan power, authority, and bureaucracy. Jadi, konsepsi orang kecil tak kan pernah hilang karena memang dibutuhkan oleh orang besar. Ia tetap ada untuk dibayar, digertak, dimarahi, dibeli, bahkan dicaci dan dimaki.

Lalu apa lagi yang orang kecil dapatkan dari orang besar selain dibayar, digertak, dimarahi, dicaci, dan dimaki. Orang kecil juga akan dapat angpao, sembako, baju seragam, atau minuman kaleng pada saat-saat tertentu. Semua dimaksudkan untuk membangun peta hegemonik dalam desain patron-client [majikan-hamba] berdasarkan mekanisme transaksional. Semakin banyak cair semakin terbelilah harga diri.

Pelan tapi pasti semua akan takluk pada kekuatan finansial. Ketika cara berlogikanya sudah seperti itu maka efek elektoral pun dianggap dapat diatur dengan kekuatan finansial. Bahasa sederhananya untuk berkompetisi tidak cukup hanya popularitas dan elektabilitas, tetapi juga perlu brankas dan isi tas.

Kalau sudah demikian maka suara rakyat bukan lagi suara Tuhan, tapi suara rakyat sudah terbeli dengan uang. Begitulah skenario orang besar untuk mengerdilkan orang kecil. Bagaimana endingnya? Kita lihat saja di perjalanan waktu yang tersisa./Red

Dibuat Oleh : Amsakar Achmad, S.Sos., M.Si. (Wakil Walikota Batam masa jabatan 2016-2021 dan 2021-2024)