Ia berharap, para pramuwisata dapat menjadi corong pemerintah dalam menyampaikan informasi yang benar kepada wisatawan, sekaligus meluruskan informasi yang keliru di tengah masyarakat.
“Saya juga berharap Bapak dan Ibu, Tuan dan Puan bisa menjadi perpanjangan lisan pemerintah, untuk meluruskan kalau ada informasi yang bengkok, membetulkan kalau ada informasi yang salah,” tambahnya.
Amsakar juga menyoroti kontribusi signifikan sektor pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Batam. Dari lima sektor penyumbang PAD tertinggi, dua di antaranya berasal dari industri pariwisata, yakni pajak hotel dan restoran.
“Ini menandakan sektor unggulan Batam bukan hanya pada properti dan lahan, tetapi juga kepariwisataan. Pramuwisata adalah profesi yang layak dihargai dan harus diberi ruang untuk berkembang,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa setelah Batam ditetapkan sebagai kota MICE (Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions), Batam tidak pernah tergusur dari tiga besar Arus kunjungan wisatawan manca negara. Tahun yang lalu terdata 1,3 juta orang Wisatawan manca negara yang masuk ke Batam. Hal itu Tidak terlepas dari peran dan kontribusi para pramuwisata.
Mengakhiri sambutannya, Amsakar menegaskan bahwa sektor pariwisata memiliki dampak berganda (multiplier effect) yang besar terhadap perekonomian daerah, menciptakan lapangan kerja, dan menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
“Kalau kita tingkatkan sektor ini, kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara akan semakin meningkat, dan itu akan menciptakan perubahan ekonomi yang luar biasa,” pungkasnya./Red.

