Beberapa video yang beredar di media sosial memperlihatkan banyak toko di Port Moresby dijarah dan dibakar.
Salah satu bisnis yang terkena dampak adalah milik Alam Bhuiyan, pengungsi Bangladesh yang kini tinggal di Port Moresby. Dia mengatakan supermarketnya di pinggiran Tokarara digeruduk dan dicuri.
Menurut Bhuiyan, aksi penjarahan itu terjadi ketika jumlah polisi yang mengawal protes berkurang.
“Toko saya kosong. Tidak ada apa pun di sana. Saya tidak punya satu sen pun,” kata Bhuiyan.
Pemimpin Oposisi Papua Nugini, Joseph Lelang, mengatakan kerusuhan dan protes di negara itu merupakan tanda bahwa warga sangat menderita secara ekonomi.
“Angka pengangguran sangat sangat tinggi,” kata Lelang.
“Saya pikir pemerintah mungkin telah meremehkan kesulitan ekonomi dan kesulitan yang dihadapi rakyat kita di sini,” lanjut dia.
Lelang mengatakan inflasi di Papua Nugini belakangan telah meningkat signifikan. Kendati begitu, tak ada kenaikan upah riil yang sesuai. Dia pun menilai protes dan kerusuhan ini merupakan satu-satunya cara warga menyuarakan rasa frustasi mereka akan kondisi negara.
“Ini situasi yang sangat menyedihkan,” ucapnya.
Sumber: CNN Indonesia
(Red)

