“Kami memasak bersama. Ada yang bawa telur, ada yang bawa cabai dan sayuran, ada yang hanya bawa senyum. Tapi semua merasa cukup. Semua saling memberi, semua saling menerima,” kenang Titin penuh haru.

Rumah singgah ini juga menjadi tempat berteduh bagi mereka yang datang dari luar Batam untuk berobat. Salah satunya adalah seorang pria dari Tanjung Balai Karimun, yang rutin menjalani kemoterapi di Batam. Setiap bulan, ia bersama keluarganya menginap satu-dua malam di rumah ini.

“Ia selalu bilang, rumah ini bukan hanya tempat menginap, tapi tempat dia merasa kuat lagi,” ungkap Titin, sembari menunjukkan ruang kecil tempat sang bapak biasa tidur.

Rumah untuk Semua Jiwa yang Letih
Di saat banyak fasilitas kesehatan yang kaku dan transaksional, Rumah Singgah Ar-Rahman hadir sebagai oasis—menyediakan kehangatan tanpa syarat. Di rumah ini, tidak ada yang merasa ditinggalkan. Tidak ada yang merasa aneh. Tidak ada yang merasa sendirian.

Setiap anak dipanggil dengan namanya, bukan dengan diagnosisnya. Setiap orang tua dipeluk dengan empati, bukan dikasihani. Dan setiap relawan yang datang, meninggalkan sepotong jiwanya di sana.

“Kami ingin dunia tahu, bahwa anak-anak ini bukan beban. Mereka adalah berkah yang hanya butuh ruang untuk tumbuh dan dicintai,” tegas Titin.

Terbuka untuk Siapa Saja
Rumah Singgah Ar-Rahman Rusli & Firza Paloh membuka pintunya setiap Selasa dan Kamis, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Untuk mendaftar, orang tua atau wali dapat menghubungi nomor: 0822-8684-8508.

Titin berharap, semakin banyak masyarakat yang ikut terlibat. Entah dengan menjadi relawan, menyumbang fikiran & gagasan maupun materi, atau sekadar datang dan berbagi waktu.

“Cinta tidak harus mahal. Kadang, cukup dengan hadir dan peduli.”/Red.