“Pembangunan nasional tidak bisa hanya dibebankan ke pusat. Daerah harus hadir sebagai penggerak dari akar rumput,” ujarnya.

Peringatan Hari Kartini yang juga jatuh di bulan April menjadi pengingat akan pentingnya peran perempuan dalam pembangunan. Menurut Amsakar, sosok Kartini adalah simbol keberanian dan kemajuan berpikir, yang relevansinya tak lekang oleh waktu.

“Kita tidak bisa bicara kemajuan jika separuh kekuatan bangsa tidak diberdayakan. Seperti disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, perempuan hari ini bukan pelengkap, tetapi penggerak,” kata Amsakar.

Ia menyatakan bahwa Pemko Batam berkomitmen untuk memastikan keterlibatan perempuan dalam pembangunan sebagai mitra sejajar, dengan memberikan ruang yang adil dan partisipatif.

Menurut Amsakar, benang merah dari peringatan Hari Otda dan Hari Kartini adalah semangat kemandirian dan keadilan. Otonomi daerah mengajarkan pentingnya membangun dari bawah, sementara Kartini mengajarkan pentingnya menolak ketimpangan.

“Keduanya ingin rakyat bangkit. Keduanya ingin perempuan bangkit. Dan keduanya ingin perubahan dimulai dari akar,” ujarnya.

Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat laki-laki dan perempuan, tua dan muda, untuk bersatu membangun Indonesia dari Batam. Dengan semangat kolaborasi dan pelayanan yang tulus, Amsakar optimistis mimpi besar Indonesia Emas 2045 bisa dicapai.

“Indonesia Emas bukan sekadar angka dalam kalender perencanaan. Itu adalah cita-cita besar yang harus kita isi dengan inovasi, sinergi, dan ketulusan dalam melayani,” tutupnya./Red.